PERADABAN ISLAM DI SPANYOL
Islam pertama kali masuk ke Eropa melalui
Semenanjung Iberia, kemudian menyebar di Andalusia (Spanyol), Portugal, Andora,
Gibraltar, dan sedikit wilayah Prancis. Masuknya Islam ke sana diperkirakan
pada 711 M atau awal abad ke-8. [1]
Thomas W. Arnold mengungkapkan bahwa bangsa
Arab membawa Islam ke Andalusia (Spanyol) pada 711 M. Peristiwa itu terjadi
pada masa Dinasti Umayyah di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Walid bin Abdul
Malik. Saat itu, Khalifah Al-Walid memerintahkan Musa bin Nushair, Thariq bin
Ziyad, dan Tharif bin Malik untuk memperluas wilayah kekuasaan Islam hingga ke
Andalusia. Bersama para pasukannya, mereka berhasil menaklukkan Andalusia dan
menjadikannya sebagai pusat kekuasaan Islam di Spanyol. Di antara faktor-faktor
yang menyebabkan Islam dapat diterima oleh rakyat Andalusia adalah tidak adanya
paksaan untuk memeluk Islam. Selain itu, kebebasan memeluk agama atau
kepercayaan dilindungi haknya oleh negara.[2]
Masa kejayaan Islam di Spanyol terjadi ketika salah satu keturunan
Bani Umayyah yang bernama Abdur Rahman pergi ke Andalusia saat kejatuhan
Dinasti Umayyah di Timur Tengah. Abdur Rahman mendirikan Dinasti Umayyah di
Andalusia pada 755 M, menempatkan dirinya sebagai khalifah kekuasaan tersebut.
Di masa kepemimpinan Dinasti Umayyah Andalusia, perkembangan Islam dapat
dilihat dari didirikannya Masjid Cordova, penegakan hukum islam, pembaharuan
dalam bidang kemiliteran, kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, pembangunan
kota, dan sejahteranya perekonomian masyarakat kala itu. Terkhusus di bidang
pengetahuan, Abdur Rahman mendirikan sekolah-sekolah besar yang diperuntukkan
bagi generasi muda. Ia juga mendirikan Universitas Cordova yang perpustakaannya
memiliki ratusan ribu buku di masa tersebut. Selain itu, kemajuan pada bidang
ilmu pengetahuan mengakibatkan banyak ilmuwan yang muncul, di antaranya Abdur
Rabbi, Ali ibnu Hazm, Al-Khatib, Ibnu Khaldun, Al-Bakri, Al-Idrisi, Ibnu Rusyd,
Ibnu Batuta, dan lain-lain.[3]
Masa keruntuhan Islam di Spanyol dimulai pada
1086 M. Saat itu, Spanyol terpecah menjadi tiga puluh negara kecil. Hal
tersebut menyebabkan wilayah-wilayah Islam juga terpecah. Inilah yang kemudian
mengakibatkan terjadinya perang saudara sesama umat Islam karena alasan kekuasaan
wilayah. Kejadian demikian terus berlanjut dan kian melemahkan pengaruh Islam
di Spanyol. Ahmad Syalabi dalam Sejarah Dan Kebudayaan Islam (1983: 76)
menyebutkan bahwa Cordova dan Seville pada 1248 M jatuh ke tangan penguasa
setempat, kemudian satu persatu daerah Spanyol pun lepas dari kekuasaan Islam.
Pada akhirnya, pengaruh Islam di Spanyol berakhir pada 1492 M. Saat itu, Raja
Ferdinand dan Ratu Isabella menyatukan kekuatan untuk menyerang Andalusia.
Pemimpin Islam kala itu, Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan Raja
Ferdinand dan Ratu Isabella, hingga akhirnya ia mengaku kalah dan menyerahkan
kekuasaannya kepada dua sosok pemimpin baru tersebut.[4]
peninggalan-peninggalan
Islam pada masa lampau yang masih dapat dilihat, yaitu:
1.
Cordoba Mezquita atau Masjid Cordova.
2.
The Alhambra Palace atau Istana Alhambra.
3.
Madinat Azahra atau benteng kota yang dibangun pada tahun 936
oleh Abd- ar-Rahman III.
4.
La Madraza Granada atau Madrasah Granada.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad
Basyrul Muvid. “Sejarah Kerajaan Turki Utsmani Dan Kemajuannya Bagi Dunia
Islam” 2 (2018).
Rahmida
Putri*, Haidar Putra Daulay, Zaini Dahlan. “Warisan Peradaban Islam Era Turki
Utsmani Sebagai Penguat Identitas Turki Modern” 1, no. 2 (2021).
Uliyah,
Taqwatul. “Kepemimpinan Kerajaan Turki Utsmani” 1, no. 2 (2021).
[1] Faidi, “Kekuasan Politik Islam Di
Andalusia : Pintu Gerbang Menuju Renaisance Eropa.”
[2] Faidi, “Kekuasan Politik Islam Di
Andalusia : Pintu Gerbang Menuju Renaisance Eropa.”
[3] Faidi, “Kekuasan Politik Islam Di
Andalusia : Pintu Gerbang Menuju Renaisance Eropa.”
[4] Itsnawati Nurrohmah Saputri,
“Daulah Umayyah Di Andalusia Dan Hasil Budayanya (756-1031 M),” UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta 4 (January 2021).

Komentar
Posting Komentar